Saturday, January 31, 2015

LDR jahat!

Kau jahat sekali LDR!
Aku merindukannya tiap hari, tiap jam, tiap gerakan tubuh yang kupunya.
Tak kusangka akan seberat ini.

Tapi pada intinya, aku akan mengalahkanmu.
Iya, aku yakin sang puja juga akan begitu.
Aku tahu kau akan perlahan membunuh kami.
Tapi tidak!
Kau hanya terlalu iri dengan kami.
Kami sudah membuat tali yang sangat panjang untuk saling berpegang.
Kuat, erat, tanpa memperdulikan angin kencang kirimanmu yang terus menerus menggoyahkan kami.
Tahukah engkau wahai LDR?
Jarak yang kau buat adalah salah satu jembatan yang menguji besarnya rasa sayang kami.
Terimakasih,
Kau akan kalah, ingat kata - kata kami.

Aku teringat dimana kami harus bertemu dengamu.
Kami tak rela melepas untaian tangan kami.
Saatku sampai di istanaku pun aku masih tak rela melepasnya hanya karena ulah jahilmu.
Kami tahu ini akan terasa sulit, sangat sulit.
Tapi kami sudah sepakat, bahwa kami akan terus berjalan beriringan walaupun tangan nakalmu tetap mencubit - cubit seluruh badan kami.
Kami sekarat?
Hey, yang benar saja!
Semakin kau keraskan cubitan tanganmu, semakin erat kami berpeluk, bergandeng, berjalan bersama.
Hanya menunggu waktu hingga kau lelah dan mempersilahkan kami untuk berada di satu tempat lagi.

Hanya berharap,
Semoga kau, pada nantinya menjadi teman baik kami.
Sahabat yang dapat merangkul kami menjadi insan yang lebih baik dari sebelumnya.
Membuat kami mengerti susahnya mempertahankan apa yang harus kami pertahankan.
Terimakasih, LDR...

#30HariMenulisSuratCinta
Hari ke-2

Friday, January 30, 2015

Sang Kapten

Hai kapten,
Mungkin tiga belas empat belas ucapan telah lama kita bahas.
Hari ini bahtera akan coba dengan tulisan.
Tulisan dimana kata aku sayang kamu akan terlihat lebih menyenangkan.
Mungkin?

Entah kenapa pada awalnya aku ragu.
Dengan segala kekurangan dan kefanaan diriku.
Tapi tetaplah hati ini ingin terus maju untuk dapat menggapaimu, kapten
Entah berapa lama aku berpikir saat itu.

Aku tak tahu, ada saat dimana kau mencoba buat aku terbang.
Iya, aku terbang.
Sungguh tinggi hingga aku tak sadar bahwa aku adalah seraut bahtera yang mengapung di lautan.

Memang aku bahtera yang kecil.
Kau adalah kapten dari segala.
Memiliki semuanya, kebahagiaan, gilanya umat, dan aku.
Aku dari awal sudah memberikan kemudiku padamu.

Kapten,
Tiada harap yang dapat aku semat padamu.
Hanya mengingatkan bahwaku tak selalu memberi kebahagiaan padamu.
Akupun tak berharap kau bisa membahagiakanku untuk selamanya.
Kapten, mari terus berlayar tanpa peduli ombak samudra menghantam membinasakan kita.
Kita akan bisa melewatinya kan, kapten?
Aku dengar kau berbisik kata "iya".

#30HariMenulisSuratCinta
Hari ke-1

Tuesday, January 27, 2015

Raga

Ada apa?
Apa kotak tuturan masih terkunci hingga akhirnya hanya kau pendam sendiri?
Raga tersesat dalam hutan yang entah tiada pijakan untuk terus beranjak
Mencoba membaca peta
Membuat sebuah kompas
Mencari cara untuk dapat menemukan kunci harta berharga
Seperti yang telah terjadi selama ini
Semua akan terasa tidak mudah
Raga hanya perlu berusaha lebih
Pusing pala raga

Monday, January 26, 2015

Saturday, January 24, 2015

Teruslah berlari

1/
Berlarilah sekencangmu
Lebih kencang dari sang angin
Hingga kau dapat berpijak diatas air
Lalu kau dapat padamkan api
Melumat daun daun kering dalam tanah

Tetaplah seperti itu

Sedangkan aku?
Aku akan tetap di sini
Di rumah
Rumah yang kau dan aku dirikan
Meracik hidangan
Menambahkannya garam
Menambahkannya gula

Membekalimu seketika kau ada di depan pintu

2/
Aku hanya lebih sok tahu tentang pondasi ini, iya pondasi rumah ini
Tahukah kamu, cara membuat rumah semegah ini?
Seyakin ini?

Tidak, jika aku tidak mengenalmu

Teruslah berlari
Teruslah berlari

Lalu pulanglah, bawa cerita cerita indahmu

Monday, January 19, 2015

Aku yang Telah Bahagia, dan Kau

Kau berlari
Entah dengan tujuan apa
Mengejarku yang sudah tak banyak bicara
Tahukah kau?
Aku sudah bahagia
Iya, benar.
Cinta hanya membela rasa

Aku dan kau bagaikan pintu lemari yang terbuka.
Dapat tertutup, tetapi terhalang pilar pembatasnya.
Relakan aku yang sudah memilih
Karena dahulu kau juga sudah memilih

Aku telah bahagia

Saturday, January 17, 2015

Thursday, January 15, 2015

Tuesday, January 13, 2015

Saturday, January 10, 2015

Entah Kapan

Sesuatu terlintas ketika kau menyentuh saya
Iya,
Rasa senang
Iya,
Tiga empat rasa melayang
Iya,
Bangunnya malaikat jahat.

Terpikir saya belum siap
Terpikir saya belum jadi yang diandalkan
Terpikir saya akan menjaga badanmu lebih lama lagi

Saya tahu nanti akan ada waktunya.
Saya belum bisa menebak.
Saya tahu kamu pun begitu.
Menunggu saat itu.
Saat datangnya gama raga.
Entah kapan

Tuesday, January 6, 2015

Kami

Kamu,
Dengan segala kehebatan
Dengan segala kemampuan
Dengan segala galanya

Saya,
Dengan segala kekhawatiran
Dengan segala kecanggungan
Dengan segala galanya

Tapi Kami,
Dengan segala kelebihan
Dengan segala kekurangan
Dengan segala galanya

Menilai semua proses yang kami jalani
Bukan memaksa tujuan dimana kami cari.

Kami.

Monday, January 5, 2015

Rasa

Rasakan,
Sinarnya.
Semilirnya.
Indahnya.
Bahagianya.

Ada yang bilang,
Pejamkan saja matamu,
Agar kau dapat bernapas lebih lega.

Ada yang bilang.
Hidupmu akan lebih indah,
Kalau kamu tahu jalan yang benar.

Ada yang bilang.
Nikmatilah cinta,
Dia akan seenaknya datang dan pergi menghampirimu.

Nikmatilah kawan.
Begitu pula aku.
Aku akan menikmati dan mempertahankannya.
Keindahan yang sungguh tiada dua.

Sunday, January 4, 2015

Akan ada

Jauh,
Saya tahu ini akan membuat saya terbiasa.
Membuktikan, membuatmu melihatnya.
Jauh bukanlah penghalang.
Iya, bukan. Sama seperti yang orang lain bilang.
Kita masih melihat langit yang sama?
Iya?
Kita tetap berjalan beriringan.
Bukan karena saya
Bukan karena kamu
Tapi kita satu.
Tujuan kita tetap menjadi sempurna.
Bersama, bukan salah satu.
Hangat itu akan tetap di nanti.
Pasti.
Satu demi satu, detik, jam, hari.
Percaya atau tidak saya akan ada.
Akan ada.

Sejak

Sejak pertama saya menolehkan pandangan mata kepadanya,
Jabat tangan pertama, 
Ya, saya sudah terlalu lama tidak melihat senyum itu.
Senyum yang saya rasa sangat tulus, sangat tulus.
Kicauan sekilas, hentakan dada ke tiga belas empat belas.
Saya tahu ini akan susah. 
Saya tahu ini akan berat.
Saya tahu ini akan beresiko. Dua puluh empat. Dua belas. 
Saya tahu banyak yang bisa membahagiakan, dan kamu pun tak pernah menjanjikan bahwa akan selalu bahagia.
Tapi saya ada.
Saya berjalan mendampingi.
Mendampingi bagaimanapun kondisinya.
Saya sudah memilih
sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com