Saturday, March 28, 2015

Hah? Tumben Curhat

Ini, disaat saya sedang merasakan jatuh, terpuruk, berpikir terlalu banyak.
Disaat saya merasa sendiri padahal banyak yang menemani.
Disaat lelah tanpa mengetahui apa yang harus dilelahkan.

*

Gini, pernah gak sih kamu merasa terlalu sibuk tapi hanya semu sebenarnya? Pada akhirnya ada yang tertinggal, padahal itu tanggung jawab yang besar? Iya, lumayan besar.

Saya merasakannya. Bahkan sekarang juga saya merasakannya. Hey apakah rasa malas telah terlalu jauh memimpin dalam diri ini?

Nah, pada akhirnya hari ini akupun ingin memperbaikinya. Ingin.

"Pada akhirnya orang yang bersalah tetaplah harus dihukum"

Iya, aku merasa terjauhkan dari bagian acara yang besar ini. Sungkan, jika kembali akan muncul cercaan serta kata menyakitkan. Haruskah aku tetap bertahan?

Tak apa, memang sudah selayaknya. Tetaplah bertahan, sabar, dalam naungan  pembelajaran.

Ah, tulisan tentang hidup lagi.

"I am so sorry to all the people I hurt while I was hurting."

Wednesday, March 25, 2015

Aku, Dia dan Kitab yang Kami Pegang

Salahkah hubungan kami ini?
Apa yang selama ini kami pertahankan, apa harus juga kami merelakannya?

*

Tadi pagi, saat bangun dari tidurku, kau sudah berada dipinggir kasur menggenggam sebuah buku. Ah, buku yang harus kau bawa ke kelas saat kuliah nanti kupikir. Kuambil kacamataku yang sudah lumayan banyak goresan pada kacanya, untuk menemaninya membaca.

"Hei cantik! Lagi baca apa nih?" Sambil kupeluk lembut dirinya dan menopangkan daguku pada bahunya.

"Sebentar Rahmat, biarkan aku membaca selembar ini dulu." Dia melepaskan pelukanku dan beranjak ke ruang tamu.

Iya, kami memutuskan tinggal berdua. Disebuah apartemen kecil. Studio indah kami.

Deg!
Aku baru menyadari. Ah, ternyata apa yang dia pegang adalah alkitab. Aku tahu, kami berbeda dalam hal ini. Kitabku dan kitabnya berbeda. Aku berpegang teguh dengan agamaku dan dia tak akan melepaskan begitu saja apa yang dia pegang.

"Maafkan aku," hampir tak terdengar suaraku. Aku memang tak seharusnya mengganggunya.

"Hey kenapa harus minta maaf? Kamu tuuh, subuhan alarmnya udah nyala eh malah aku yang bangun." Katanya.

"Yeee lagian kamu sih kina, udah tahu alarmnya bunyi gak juga bangunin aku." Kubalas perkataannya dengan sedikit candaan sambil menyenggol tangan mungilnya.

"Percuma juga kalii. Tiap aku bangunin tuh ya kamu cuma jawab hu uuuh hu uuuh. Tapi tetep aja balik lagi tuh tidurnya. Gak takut tuh tuhan marah sama kamu."

Benar juga, aku seharusnya tak boleh begini. Kina saja selalu menyempatkan membaca kitabnya setiap pagi. Aku? Aku adalah botol air mineral kosong yang dibiarkan tidak tertutup. Menunggu untuk dibuang. Terbuang maksudku.

"Iya deeehh, besok kamis nih.. bangunin jam 3 yaaah." Pintaku manja.

"Ho oh, puasa senin kamis kan ya? Oke deeh. Tapi kudu janji abis makan pagi banget itu kamu kudu tetep bangun sampai nanti waktu ibadahmu dateng yah. Awas aja sampai tidur duluan lagi." Ucapnya agak sedikit ketus.

"Yaudah yuk siap siap kuliah udah jam segini nih!"

*

Terkadang aku berpikir. Tak sedikit orang yang menyinggung kami. Emang kenapa sih? Iya aku tahu tidak dianjurkan bagi agamaku memiliki rasa sayang yang 'lebih' pada agama yang lain. Tapi aku menyayanginya. Lebih dari aku menyayangi diriku sendiri. Kami tahu batasannya. Hingga sekarangpun kami menjalani hubungan ini tanpa ada bumbu-bumbu 'nakal' didalamnya. Kami saling menjaga. Hati dan raga kami. Bahkan saling mengingatkan dalam beribadah.

Haruskah aku menyerah dalam hubungan kami ini? Apakah dia yang akan menyerah? Aku harap kami dapat mempertahankannya.

Apakah tuhanmu marah ketikaku menyayangimu? Aku akan bertanya pada tuhanku, tolonglah tanyakan ini juga pada tuhanmu. Bolehkah aku yang bukan umatnya menyayangi hambanya?

Biarlah tuhan menjawabnya. Waktu yang terus berputar ini yang akan mendewasakan kita.

Aku akan terus berusaha. Walau pada akhirnya kita harus saling merelakan apa yang seharus dan sepantasnya kita relakan.

***

Cerita ini terinspirasi dari sebuah artikel yang entah aku menemukannya dimana. Tapi sungguh sangat menyentuh. Tetaplah berpegang teguh pada agama yang sudah kau yakini. Jangan lupa untuk selalu mengingat tuhan. Karna tuhan tak akan pernah lupa untuk mengingatmu.

Friday, March 6, 2015

[Cerpen] Pernahkah Kau Merasakan Cinta yang Secinta-cintanya?

"Apakah kau pernah merasakan cinta yang secinta - cintanya? Pada pandangan yang kesekian? Sampai sekarang kau tetap memikirkannya?"

Yah, itulah yang Esto pernah rasakan. Sampai saat ini. Sudah bertahun - tahun ia pendam tanpa ada jawaban. Entah sakit atau bahagia dalam pandang lamunannya. Hanya ia yang dapat merasakannya.

*

"Eh, to! Lu napa melamun lagi? Sana makan siang dulu."

Ujo, teman esto sejak lama. Dari awal masuk kuliah. Mungkin karena rasa sepi yang sama. Iya, sepi.

"Apaan, kagak ah. Dari tadi gue nungguin lu. Kelas gak selesai - selesai. Ckck. Eh gue kadang mikir deh jo."

"Mikir apaan men? Cewe yang mana lagi neh.."

Ujo memang sering dijadikan 'partner' luapan pikiran buat Esto. Fungsi sahabat memang harusnya seperti itu kan?

"Gini bruh, kadang gue kepikiran sama seseorang. Sudah lama sih gue ketemunya. Waktu itu jaman gue SMA kelas 1. Tapi entah kenapa dia menghilang. Guenya kangen."

"Alaaah, nyeritain masa lalu lagi lu men. Sudahlah itu hati diisi aja lagi sama yang baru. Repot amat lu mikirin orang yang gak mikirin lu. Capek sendiri kan?"

Ah, benar kata Ujo. Benak Esto. Tapi Esto merasakan hal yang berbeda. Tak bisa dengan mudah ia melupakan seseorang tersebut. Semakin mencoba untuk dilupakan semakin dekat bayang bayangnya terasa. Pernah merasakannya juga kan?

"Yah, tapi ada rasa dimana gue pingin banget ketemu dia jo. Tapi sekaramg gue udah gak punya kontaknya lagi. Ada sih gue sempat follow instagram sama add facebooknya. Tapi gue malu mau nanya. Takut gue sudah dilupakan. Mending gue gak nanya deh, daripada entar nanya tapi dijawab 'eh, siapa lu?' atau 'lu anak mana nanya nanya kontak gue?'. Kan guenya yang sakit jo. Lu kayak gak tau gue aja jo. Gue gak enakan orangnya."

Ujo melenguh, memang seperti itulah. Si Esto yang lumayan tampan, Ujo pun paham Esto memiliki kerendahan hati yang sangat besar. Terkadang terlalu memikirkan perasaan orang lain. Bukan dirinya sendiri.

"Alah, lu mah gitu. Uda ada cahaya cahaya kehidupan lu malah diem aja. Lu tuh ya, kalau misalnya ada di goa yang mau runtuh lu pasti deh ngebiarin temen temen lu lewat dulu. Trus lu nya mati deh kena runtuhan batu batu. Udah lah to, lagian kalau lu kenalan lagi sama dia apa salahnya? Toh kalau lu emang berkesan juga buat dia lu gak bakal dilupain. Iya kan?"

"Udah ah, gue beli makan dulu bentar ya jo. Tunggu sini temenin gue makan."

Hanya pengalihan, Esto juga sadar. Harusnya ia tak harus terlalu memikirkan apa yang orang lain pikirkan. Harusnya Esto mempunyai keberanian untuk bertanya. Setidaknya say hi dengan orang itu. Tapi, begitulah Esto. Akhirnya setelah duduk kembali dengan si Ujo.

"Wah enak tuh. Bagilah to!"

"Nih ambil jo. Jo, gue ya kalau ngebayangin dia tuh-- Eh, lu pernah ngerasain gak sih kalau ngelihat orang terus lu kayak mikir 'gilaaaa nih anak imut banget sih!! Pingin banget gua acak acak rambutnya, gue temenin dia kemanapun, gue pingin terus ngeliatin wajah dia sampe bosen!!!'. Pernah ga jo? Gue nanya beneran nih."

"Lu mah lebay to. Tapi pernah sih, dulu banget. Gue cuma ngerasa, iya nih anak lucu banget. Tapi gue juga gak mikir sih kalau sampe harus jadian atau berhubungan lebih lanjut sama si doi. Gue cuma jadi secret admirernya doang. Kenapa lu tanya gitu dah ke gue? Lu naksir yang mana nih? Maba maba ye?"

Terkadang Ujo memang membuat candaan candaan renyah. Setidaknya agar Esto tak berpikir terlalu banyak soal masa lalunya. Kasian Esto, pikirnya. Terjebak di masa lalu dalam ruang nostalgia memang terasa sangat berat dan menyakitkan. Betulkah?

"Bukan jo, gue mikir orang itu. Iya gue ngerasain kayak gitu,"

"Bahasan lu dari kemaren itu mulu sih to, kasian gue. Eh lu kelas kan? Kelas dulu sono!"

*

Di kosan, Esto sungguh merasa sepi. Iya hanya ditemani dentang denting suara dari grup chat di handphonenya.

"Ah, sudahlah. Aku juga harus tetap menjalani hidup. Gak baik juga nih kalau dipikirin terus. Aku juga gak tau sekarang dia dimana, sama siapa. Bener deh kata Ujo, aku harus bisa mikirin dirisendiri juga."

Esto tetap menjalani hidupnya, dengan sedikit serpihan masa lalu yang perlahan hilang dalam pikirannya.

"Seseorang yang ingin kita miliki belum tentu bisa kita miliki."

"Masa lalu, kenangan bahagia akan membuatmu senang, yang kelam? Dapat kau jadikan pelajaran. Hiduplah untuk masa depan, masa lalu sebagai pedoman agar kau tak salah langkah di masa depan."

NB: Pernahkah kau merasakan cinta yang secinta-cintanya?

Sunday, March 1, 2015

Tujuan Blog Ini

Pada awalnya sih,
Blog ini saya dedikasikan untuk menulis apa yang ada didalam kepala saya.
Tapi entah kenapa saya hanya dapat menuliskan kata kata yang kurang layak dipahami. Ahaha

Saya masih berpikir, apakah blog ini akan saya ubah jadi sesuatu yang lebih bermanfaat? Nanti deh.

Iya, saya sempat berpikir juga untuk menuliskan sesuatu yang lebih dapat dipahami. Apa yah? Tips tips? Cara memasak? Traveling freak? News?

Saya pikirkan dahulu deh..
Eh tapi bagaimana kalau mata kuliah saya?
Halah, itu memperburuk keadaan blog ini karena saya juga entah paham atau tidak dengan materinya.

Doakan saja blog ini jadi lebih atraktif dari sebelumnya ya.

Regards,
Estka Eko F.

Menceritakan Kembali

Kita bertemu kapan?
Masih ingatkah?
Tanggal 24 ya kalau tak salah. Iya saat itu aku kira perjalanan kita tak akan berlanjut. Sudahlah, mungkin saya hanya akan menambah teman. Pikirku. Hey tapi tidakkah ini aneh?

Tangan ini, yang nakal ini. Aku ingat sekali setelah kita berpisah tangan ini langsung menyambar halus rambutmu. Yah, mungkin terbiasa. Aku akui aku sangat suka membelai rambut orang yang kusayang. Eh, ternyata sayang beneran. Sama kamu.

Ini beruntungkah atau malah ini akan menjadi kesialan bagiku? Jangan bertanya seperti itu. Kau tahu Tuhan akan memberikan yang terbaik. Ya begitu pula bagi diriku. Aku merasa beruntung sih. Aku memang harus merubah diriku. Dahulu, aku sungguh nakal. Ya jangan ditanya nakalku seperti apa.

Bersyukur, dipertemukan dengan orang luar biasa. Aku pun berubah. Aku pun menjadi lebih dewasa. Iya, dihadapkan dengan berbagai kendala dalam diri kita. Hujan badai dalam perjalanan kita. Lelah lemas dalam raga kita. Terasa semua. Iya kan?
Disitu perlahan kita menjadi dewasa.

Teruslah seperti ini. Berjalan bersama. Mendewasakan diri. Bertahan dengan semua penghalang. Long life...

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com