Wednesday, March 25, 2015

Aku, Dia dan Kitab yang Kami Pegang

Salahkah hubungan kami ini?
Apa yang selama ini kami pertahankan, apa harus juga kami merelakannya?

*

Tadi pagi, saat bangun dari tidurku, kau sudah berada dipinggir kasur menggenggam sebuah buku. Ah, buku yang harus kau bawa ke kelas saat kuliah nanti kupikir. Kuambil kacamataku yang sudah lumayan banyak goresan pada kacanya, untuk menemaninya membaca.

"Hei cantik! Lagi baca apa nih?" Sambil kupeluk lembut dirinya dan menopangkan daguku pada bahunya.

"Sebentar Rahmat, biarkan aku membaca selembar ini dulu." Dia melepaskan pelukanku dan beranjak ke ruang tamu.

Iya, kami memutuskan tinggal berdua. Disebuah apartemen kecil. Studio indah kami.

Deg!
Aku baru menyadari. Ah, ternyata apa yang dia pegang adalah alkitab. Aku tahu, kami berbeda dalam hal ini. Kitabku dan kitabnya berbeda. Aku berpegang teguh dengan agamaku dan dia tak akan melepaskan begitu saja apa yang dia pegang.

"Maafkan aku," hampir tak terdengar suaraku. Aku memang tak seharusnya mengganggunya.

"Hey kenapa harus minta maaf? Kamu tuuh, subuhan alarmnya udah nyala eh malah aku yang bangun." Katanya.

"Yeee lagian kamu sih kina, udah tahu alarmnya bunyi gak juga bangunin aku." Kubalas perkataannya dengan sedikit candaan sambil menyenggol tangan mungilnya.

"Percuma juga kalii. Tiap aku bangunin tuh ya kamu cuma jawab hu uuuh hu uuuh. Tapi tetep aja balik lagi tuh tidurnya. Gak takut tuh tuhan marah sama kamu."

Benar juga, aku seharusnya tak boleh begini. Kina saja selalu menyempatkan membaca kitabnya setiap pagi. Aku? Aku adalah botol air mineral kosong yang dibiarkan tidak tertutup. Menunggu untuk dibuang. Terbuang maksudku.

"Iya deeehh, besok kamis nih.. bangunin jam 3 yaaah." Pintaku manja.

"Ho oh, puasa senin kamis kan ya? Oke deeh. Tapi kudu janji abis makan pagi banget itu kamu kudu tetep bangun sampai nanti waktu ibadahmu dateng yah. Awas aja sampai tidur duluan lagi." Ucapnya agak sedikit ketus.

"Yaudah yuk siap siap kuliah udah jam segini nih!"

*

Terkadang aku berpikir. Tak sedikit orang yang menyinggung kami. Emang kenapa sih? Iya aku tahu tidak dianjurkan bagi agamaku memiliki rasa sayang yang 'lebih' pada agama yang lain. Tapi aku menyayanginya. Lebih dari aku menyayangi diriku sendiri. Kami tahu batasannya. Hingga sekarangpun kami menjalani hubungan ini tanpa ada bumbu-bumbu 'nakal' didalamnya. Kami saling menjaga. Hati dan raga kami. Bahkan saling mengingatkan dalam beribadah.

Haruskah aku menyerah dalam hubungan kami ini? Apakah dia yang akan menyerah? Aku harap kami dapat mempertahankannya.

Apakah tuhanmu marah ketikaku menyayangimu? Aku akan bertanya pada tuhanku, tolonglah tanyakan ini juga pada tuhanmu. Bolehkah aku yang bukan umatnya menyayangi hambanya?

Biarlah tuhan menjawabnya. Waktu yang terus berputar ini yang akan mendewasakan kita.

Aku akan terus berusaha. Walau pada akhirnya kita harus saling merelakan apa yang seharus dan sepantasnya kita relakan.

***

Cerita ini terinspirasi dari sebuah artikel yang entah aku menemukannya dimana. Tapi sungguh sangat menyentuh. Tetaplah berpegang teguh pada agama yang sudah kau yakini. Jangan lupa untuk selalu mengingat tuhan. Karna tuhan tak akan pernah lupa untuk mengingatmu.

0 comments :

Post a Comment

Suka? Comment dong..

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com